Powered by Blogger.

Twitter, Gak Asyik Mas....!

[Image]

Sebagian yang banyak orang yang menggunakan browsernya untuk mengakses situs jejaring sosial tentu tidaklah asing dengan nama friendster dan facebook.Facebook demikian menggejala sebagai trend yang meningkatkan traffic internet di Indonesia, sehingga banyak di ulas di media, bahkan di jadikan sebuah judul lagu. Dan beberapa orang termasuk saya, sangat "terlibat" demikian jauh dalam kenikmatan ber-facebook ria.
Setelah facebook sedemikian populer, twitter menjadi pembicaraan hangat di berbagai media, dan menjadi lebih fenomenal ketika presiden obama (presidennya orang amerika itu lho!!) sering bergelut dengan twitter. Bahkan menjadi sebuah kebanggaan bagi menkominfo yang baru yaitu yang terhormat bapak TIFTAHUL SEMBIRING menjadi "penggelut" web 2.0 ini yang dikategorikan sebagai microblogging (jadi saya sedang bermacroblogging dong!).
Sebagai teman yang baik, saya mencari jawabannya (yang bahasa indonesia dong!) dan ternyata yang saya dapati menurut CEO-nya yaitu Evans Williams, twitter bukan social networking alias bukan situs jejaring sosial, tetapi informations networking. Weleh-weleh... yach.. kalo begitu kalo mau make twitter jangan mengharapkannya seolah-olah sebagai situs jejaring sosial, tetapi harus digunakan sebagai sebuah fitur untuk mendapatkan informasi secara lebih luas. Jadi follow-lah orang-orang yang saudara-saudara anggap berguna untuk di akses informasi tentang orang atau media tersebut. (eot)
Dan teman-teman saya (agak-agak latah) banyak yang ikut-ikut daftar ke twitter.com, dan akhirnya karena membayangkan fitur seperti layaknya facebook, mereka pun "kecewa", dengan menggerutu asyiknya apa sih?
Bengong!
Lah, twitter sudah menjadi trendsetter di dunia maya kok pada bilang gak asyik...
dan ini ketemu quote dari mas edittag :

1. Twitter bukan social networking, namun information networking (mencuri perkataan CEO Twitter Evan Williams). Status mereka yang masih pelajar sangat lekat dengan informasi, terutama di sekolahnya. Ini yang menyebabkan mereka bisa menyampaikan kabar secara real time dengan mudah.
2. Ketiadaan komentar (seperti halnya di Plurk dalam satu timeline) menjadikan mereka mesti informatif tanpa berharap adanya feedback berupa komentar masuk. Banyaknya komentar bisa jadi semacam motivasi saat mereka gabung di dunia social media. Semakin banyak komentar, semakin eksis mereka dalam lingkungannya. Berharap komentar menyebabkan mereka kadang menyampaikan informasi dengan narsis, berlebihan.

Adanya beberapa diantara mereka yang akhirnya tak meneruskan aktivitas di Twitter juga karena beberapa penyebab. Paling mudah mencari alasan dari sini adalah, kesalahan mengikuti orang (following), ketika mereka hanya mendapati pengguna twitter lain hanya bercerita tak penting, mereka tak bisa membedakannya dengan media lain. Justru di Twitter kita punya banyak referensi untuk membicarakan bidang tertentu. Ini bisa jadi acuan yang baik untuk berkomunikasi dengan pihak lain di ranah maya.

Bannerad

Artikel Terpopuler

Tags

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani